Kapoltabes: Saya Optimis
Kasus Pembunuhan Terungkap
MANADO – Untuk mengungkap pelaku pembunuhan pendeta Frans Koagouw (64) serta istrinya Femmy Kumendong (73) yang dikenal sebagai gembala di GPdI Petra Malalayang Dua Manado, Sabtu lalu, pihak Poltabes Manado sedang memeriksa tiga saksi.

Tiga saksi itu, Putra Marsel Paseki (20), Siska Rumondor (24) dan Teris Karaeng (58) yang bekerja sebagai tukang yang merupakan warga Malalayang Dua Lingkungan III Kecamatan Malalayang.
Menurut saksi Siska bahwa di Jam 7.30 Wita, ia mendengar ada seorang lelaki bertanya kepada Teris tentang rumah Rocky Pronoko (45), menantu korban. Kemudian dijawab Teris didepan. Selanjutnya lelekai tersebut mendatangi rumah korban, dan sekitar 30 menit kemudian Putra cucu korban datang ke rumah (Pastori), dan menemukan kedua korban dalam keadaan mengenaskan, Frans tergeletak dilantai tidak bernyawa lagi dan mengalami luka potong dileher bagian belakang, dan Femmy tidak sadarkan diri karena mengalami luka potong dibagian wajah.
Hasil pantauan Cahya Siang di TKP Sabtu pagi, korban Frans langsung meninggal ditempat kejadian akibat mengalami luka potong dibagian leher. Kepala korban nyaris terpisah. Sedang Femmy tergeletak di tempat tidur dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tiga luka sabetan menganga di wajahnya. Satu tebasan pada dahi kanan melewati pelipis dan mata kanan hingga tulang pipi kanan. Luka tebasan kedua menganga di dahi kanan melewati pelipis mata kanan terus ke bawah mengenai bibir hingga dada. Satu tebasan lagi mengenai pipi kiri. Dan Femmy menghembuskan nafasnya terakhir di Rumah Sakit Prof Kandou Malalayang. 
Kapoltabes Manado Kombes Pol Drs Aridan J Roeroe saat konfirmasi Cahya Siang mengatakan untuk mengngkap kasus pembunuhan itu pihak Poltabes sudah membentuk tim yang dpimpin langsung oleh Wakapoltabes AKBP Hendra Supriatna,SH MH. ”Saat ini personel kepolisian terus bergerak untuk menyelidiki kasus tersebut,” ujarnya.
Mengenai lama atau tidaknya pengungkapan kasus pembubuhan ini, Roeroe menegaskan Tidak memasang target berapa lama kasus ini akan terungkap, namun dia menjamin kepolisian akan bertindak maksimal, tutur Kapoltabes Manado yang saat kejadian sudah langsung turun ke TKP.
Dijelaskan Roeroe, Poltabes Manado sudah berkoordinasi dengan Polres Minahasa untuk bersama-sama mengungkap kasus pembunuhan ini. Menurutnya, untuk memaksimalkan penyidikan, semua pihak harus bekerjasama, termasuk masyarakat seraya menambahkan pihak sudah memeriksa tiga orang saksi. ”Saya optimis pihak kepolisian akan berhasil mengungkap kasus pembunuhan ini,” kata Kapoltabes.
Diketahui, pembunuhan yang diduga berencana terjadi di salah tempat ibadah di bilangan Lingkungan III, Kelurahan Malalayang II, Kecamatan Malalayang, Kota Manado. Frans Koagouw (60-an), tewas di Tempat Kejadian Perkara (TKP), setelah kepala korban nyaris terpisah dengan badan. Sedangkan istri Frans, Femmy Kumendong (60-an), juga tewas sekitar pukul 10.00 Wita, setelah mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Prof Kandou Malalayang. Femmy ketika mendapat pertolongan oleh masyarakat sekitar di dalam kamar ternyata masih bernapas, sehingga dilarikan ke rumah sakit namun beberapa jam setelah peristiwa terjadi nyawa ibu beranak empat ini tidak tertolong.
Pembunuhan dengan cara memotong-motong (mutilasi) para korban baru kali ini terjadi Manado,bahkan diduga di Sulawesi Utara. Satu jam sebelum peristiwa terjadi, ‘eksekusi’ gaya lelaki Jombang, Ryan, ini belum tercium warga namun merebak setelah salah seorang cucu korban melihat banyak tumpahan darah di sekitar pintu dan ruang tamu para korban.
Peristiwa biadab itu, terjadi sekitar pukul 06.30 Wita, Sabtu (25/4), di saat para PNS dan pegawai swasta beristirahat bekerja, namun berubah hening ketika terdengar opa Frans dan oma Femmy ditebas dengan parang.‘’Kalau itu opa dia punya kepala hampir putus, sedangkan itu oma dorang potong-potong di kepala dan di muka. Depe mata so takaluar sadiki,’’ ujar salah ibu yang tidak mau namanya disebutkan.
Sejumlah sumber di TKP menyebutkan, korban Femmy selama beberapa tahun mengidap strok (ferlaming), sehingga harus dipapah jika ke kamar kecil dan makan perlu disuap. ‘’Kita ndak habis pikir, itu oma so saki bagitu, dorang bunuh ley. Bukan main dorang mo terima itu kutuk,’’ kata Yangky S, sopir trayek jurusan terminal Malalayang – Karombasan.
Nada yang sama juga datang dari salah seorang sopir. Menurut Danny S, sopir Mikrolet yang hampir 20 tahun melayani penumpang terminal Malalayang – Karombasan mengungkapkan, bahwa opa Frans adalah salah pemuka agama di salah satu tempat ibadah di Kelurahan Malalayang. ‘’Itu opa kita kenal. Kita bukang mo sosere, itu opa kalau mo bajalang agak pincang,’’ ujarnya. Selain itu, lanjut Danny, korban sewaktu umur 50-an pekerjaannya, selain melayani jemaat di Malalayang II, juga berprofesi bussinisman bahkan sering menjual daging sapi di Pasar Karombasan. ‘’Itu opa pe hobby kwa ba bisnis. Jadi banyak orang kanal di kompleks pa dia,’’ ujarnya.
Sebelum peristiwa berdarah terjadi, pagi sekitar pukul 06.00 Wita ada seorang lelaki bertanya kepada tetangga korban, yang menanyakan dimana rumah Keluarga Koagouw-Kumendong. Kemudian tetangga korban menunjuk keluarga tersebut. ‘’Kita dengar sebelum terjadi pembunuhan ada laki-laki bawa sepeda motor bebek batanya pa tu tetangga korban tanya itu opa pe rumah,’’ kutip seorang sopir, kepada Cahya Siang.
Motif pembunuhan masih simpang siur, namun hingga kemarin sore merebak isu bahwa pembunuhan tersebut dilatarbelakangi pembagian warisan (harta) di Kecamatan Remboken – Minahasa. Selain itu, ada perselisihan sebidang tanah di Kelurahan Malalayang II, Lingkungan III. Tempat tersebut sangat strategis karena berhadapan dengan pantai, yang saat ini sedang dibangun untuk dijadikan toko yang cukup megah.
Tanah yang sudah dijual korban sempat bermasalah hingga ke pengadilan, baik bermasalah secara perdata maupun pidana. Gugatan perdata di Pengadilan Negeri (PN) Manado hasilnya tidak dapat diterima, sedangkan perkara pidananya masih diperiksa di Mahkamah Agung. (009/JM/001)