Pergub Ganjil Genap Berlaku 10 Hari

MANADO, Cahya Siang (6/05)-Menurut Kapala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishub Kominfo), Ir J. Eddy Kenap, Pergub yang dikeluarkan Pemprop Sulut ini secara detail memutuskan bahwa kendaraan dengan nomor polisi berakhir ganjil dan genap dapat beroperasi sesuai dengan tanggalan ganjil maupun genap. Continue reading

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

Polisi Tidak Sewa Dukun

Wajah Pembunuh Pendeta Diketahui

MANADO, Cahya SIang (5/05) – Aparat kepolisian siap mengungkap pelaku pembunuhan sadis Pdt Frans Koagow (64) dan istrinya Femmy Kumendong (72). Sebentar lagi hal tersebut akan diketahui lewat sketsa wajah sang pelaku yang bakal disebarkan ke publik.
Untuk mengungkap kasus pembunuhan ini, Polisi menggali fakta lewat penuturan sejumlah saksi yang telah diperiksa. Dari situ, kemudian polisi berhasil menggambar sketsa wajah pelaku. “Sketsa ini dibuat berdasarkan keterangan saksi-saksi yang memaparkan saat korban terakhir bertemu dengan siapa, kemudian digambarkan,” kata Kapolda Sulut, Brigjen Pol Drs Bekto Suprapto pada wartawan Senin (4/5) kemarin.
Bekto berjanji, sketsa tersebut tak akan disimpan apalagi dirahasiakan. “Akan kami sebarkan lewat media gambarnya, biar masyarakat bisa tahu,” tandas mantan Kepala Densus 88 ini.
Bersamaan, Kapolda juga membantah aparatnya menggunakan jasa ‘orang pintar’ untuk mengungkap kasus pembunuhan ini. Hal tersebut sekaligus menangkis isu bahwa Polda minim dana untuk melakukan penyelidikan. “Anggarannya cukup, kalau
kurang minta sama Kapolda, saya kasih dan itu masih ada. Sekali lagi mengenai anggaran penyelidikan dikatakan tidak cukup, tidak benar itu. Yang jelas masih cukup, bulan apa ini, kan anggran penyidikannya sampai Desember,” tegas Bekto.
Seperti diketahui pembunuhan yang terjadi di GPDI Petra Malalayang, menewaskan Pdt Frans Koagouw, dikenal sebagai Gembala Sidang GPDI Petra Malalayang II dan istrinya Femmy Kumendong (72). Sepasang suami-istri yang dihabisi secara sadis oleh pembunuh misterius.
Jenazah kedua korban tergeletak bersimbah darah dalam rumah mereka, Kelurahan Malalayang II, Lingkungan III, Kecamatan Malalayang, Manado, Sabtu (25/4) pagi. Pembunuh keji ini diperkirakan terjadi sekitar pukul 07.00 Wita.
Jenazah Frans tergeletak di dalam kamar, posisinya tertelungkup ke arah pintu. Luka bekas sabetan parang menganga di bagian tengkuk, Kepala korban nyaris terpisah dari tubuhnya. Femmy tergeletak di tempat tidur dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tiga luka sabetan menganga di wajahnya. Satu tebasan pada dahi kanan melewati pelipis dan mata kanan hingga tulang pipi kanan. Luka tebasan kedua menganga di dahi kanan melewati pelipis mata kanan terus ke bawah mengenai bibir hingga dada.
Satu tebasan lagi mengenai pipi kiri. Dan Femmy menghembuskan nafasnya terakhir di Rumah Sakit Prof Kandou Malalayang. (009/010)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

Diperiksa Kasus SPPD Fiktif DPRD Manado

MANADO, Cahya Siang (2/5) – Pemeriksaan terhadap anggota DPRD Kota Manado terkait dugaan SPPD Fiktif tahun 2008 intensif dilakukan pihak penyidik Sat Ops III Dit Reskrim Polda Sulut.Hingga Jumat (1/5), sudah 10 anggota yang disidik. Berdasarkan pantauan Cahya Siang selama sepekan hingga Jumat lalu, sudah 10 anggota DPRD Kota Manado yang bergantian diperiksa Polda Sulut. Mereka, Didi Syafii, Amir Liputo, Ronald Mapaliey, Franklin Montolalu, Herman Tindas, Maskul Katili, Don Jurian Paath, Saul Pantouw Linberg Rotinsulu, dan Jimmy Wungow.
Jumat lalu,  giliran Jimmy Wungow dari Fraksi Partai Damai Sejahtera (PDS) diperiksa. Tiba di Polda Sulut Wungow dengan mengendarai sepeda motor Tiger, Wungow menjalani pemeriksaan sebagai saksi.
Kepada Cahya Siang ketika melangkah keluar dari ruang penyidik tepat pukul 17.00 Wita, Wungow menyatakan dirinya datang sebagai saksi. “Kita datang sebagai saksi. Mengenai pertanyaan, kita so lupa, begitu pun dengan jam berapa kita datang, kita lei lupa,” ujarnya singkat sambil mengenakan helmet.
Wungow mengaku, pemeriksaan terhadap dirinya berlangsung baik. “Penyidik bersikap baik dan bersahabat selama melakukan pemeriksaan,” ujar Wungow yang memakai kemeja putih serta celana jeans biru sambil tersenyum kemudian menstater sepeda motornya.
Wungow gugup karena hanya sendirian selama diperiksa beberapa jam. Tak heran jika Wungow tak bisa mengingat jumlah pertanyaan serta berapa jam dirinya diperiksa. (009/008)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

Track Gokart Disiplinkan Pengemudi

MANADO, Cahya Siang (2/5)– Kapolda Sulut Brigjen Pol Drs Bekto Suprapto MSi meletakkan batu pertama pembangunan Track Gokart dan Taman Lalu Lintas di Kawasan Mega Mas Boulevard, tepatnya di depan Lapangan Futsal.
Bekto menyatakan, sarana ini merupakan hasil kemitraan pihak kepolisian dengan masyarakat lewat kalangan swasta. Pihak swasta  bersedia memberi-kan bantuan dana untuk pembangunan arena sirkuit pertama di Sulut tersebut.
Menurut Bekto, bangunan yang akan didirikan di lahan seluas 3.000 meter persegi ini bakal memberikan manfaat lebih bagi masyarakat tentang pendidikan dalam berlalu lintas. Karena itu, bangunan itu akan dibangun mirip sirkuit kelas dunia seperti di Sepang, Malaysia.
Sarana Track Gokart dan Taman Lalu Lintas pertama di daerah Nyiur Melambai tersebut direncanakan selesai dalam waktu dua bulan ke depan. Adapun acara peletakkan batu pertama tersebut juga dihadiri Direktur Narkoba Polda Sulut Kombes Pol Drs VJ Lasut MM,  Kapoltabes Manado Kombes Pol Drs Aridan Roeroe, serta Ade sebagai wakil pihak swasta yang akan mendonasikan dana pembangunan arena tersebut.
Catatan Cahya Siang, hingga medio 1970-an, arena gokart sebenarnya pernah  berdiri di Kota Manado. Letaknya di seputar patung Robert Wolter Monginsidi di Jalan Bethesda, atau beberapa meter dari kompleks Polda Sulut. Namun belakangan, track gokart tersebut menjadi terlantar sehingga dibongkar. Pembongkaran itu seiiring dengan dipindahkannya patung Wolter Robert Monginsidi ke kawasan Boulevard.(009/008)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

Korban Lumpuh, Supir Penabrak Dipenjara 10 Bulan

MANADO, Cahya Siang (2/5) – Lagi, jumlah penghuni Rumah Tahanan Negara (Rutan) Malendeng – Manado  ketambahan napi baru. Napi tersebut, Hendro (24) diganjar hukuman 10 bulan penjara oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Manado, Kamis (30). Hendro terbukti menabrak Alvrets Tommy Sasongke sehingga kaki kiri korban mengalami cacat tetap.
Warga Desa Sukur, Kecamatan Airmadidi, Mi-nahasa Utara ini sebelumnya dituntut pidana penjara 1,6 tahun penjara oleh jaksa Mieke Sumampouw SH. Sebab, Hendro  dianggap terbukti melanggar pasal 360 ayat (1) KUHP.
Sidang tersebut dipimpin hakim hakim yang diketuai Winaryo SH MH dengan dua hakim anggota, yakni  Frans Liemena SH MH dan Ketut Manika SH MH. Adapun sidang putusan tersebut dihadiri keluarga terdakwa, sedangkan korban tidak hadir.
Peristiwa yang nyaris menelan korban jiwa itu terjadi pada Sabtu, 11 Oktober 2008, sekitar pukul 19.00 Wita, tepatnya di Jalan Piere Tendean atau kawasan Boulevard.
Awalnya, sekitar pukul 18.00 Wita, Hendro mengemudi mobil Nissan Terano bernomor polisi DB 2859 AG biru hitam, bergerak dari arah Desa Sukur, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara.
Ketika berada di Jalan Piere Tendean,  tepatnya di depan Manado Town Square (Mantos), mobil yang dikemu-dikan terdakwa sedang membuntuti sebuah mobil Xenia. Setelah mendekat mobil Xenia, tiba-tiba Hendro mengemudikan mobilnya  dengan kecepatan tinggi.
Dari arah berlawanan mendadak muncul sepeda motor yang dikendarai Alvrets Tommy Sasongke sehingga terjadi tabrakan. Saat itu juga korban langsung dilarikan ke RS Proesorf Kandou, Mala-layang.(JM/008)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

Dua Terdakwa Korupsi, Bulog Minta Dibebaskan

MANADO, Cahya Siang (2/5) – Setelah dituntut masing-masing pidana tujuh tahun penjara potong tahanan, terdakwa kasus dugaan korupsi sebesar Rp 11 miliar lebih di Bulog Sulut, kini Ir Nono Satrya Indra Buana dan Dolly Mardi SE, balik ‘menantang’ Jaksa Penuntut Umum (JPU) Adrie Notanubun SH.
Melalui tim kuasa hukum Mozes Riupassa SH, Nono dan Dolly meminta supaya dibebaskan oleh majelis hakim dari jerat hukum. Sebab,  menurut mereka, kedua terdakwa  tidak terbukti melakukan tindak pidana korupsi (tipikor).
Dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Manado, Kamis (30/4), Riupassa dalam pledoi setebal 41 halaman, antara lain menyebutkan, majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di PN Manado, harus menyatakan dakwaan jaksa batal demi hukum.
Di depan hakim Frans Liemana SH MH dan JPU, Riupassa  menegaskan supaya dakwaan jaksa terhadap kedua kliennya tidak dapat diterima.  Selain itu, dakwaan jaksa dianggap disusun berdasarkan penyidikan yang tidak sah sehingga tidak sah menurut hukum.
Karena itu, lanjut Riupassa, cukup beralasan jika dakwaan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima, Dengan demikian,  Nono dan Dolly harus dibebaskan dari segala tuntutan hukum.
Riupassa menambahkan,  jaksa dalam tuntutannya mengharuskan para terdakwa untuk dihukum membayar uang pengganti sebesar Rp 11,6 miliar lebih. Jika tidak,maka dalam jangka waktu sebulan sesudah putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap, maka harta benda akan disita oleh jaksa untuk dilelang demi menutupi uang pengganti tersebut.(JM/008)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

ISU STRATEGIS MENYAMBUT PELAKSANAN WOC/CTI SUMMIT

Numberi: ”Illegal Fishing pada Pra Ekploitasi”

MANADO, Cahya Siang (28/4) – Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) fishing sudah waktunya untuk ditindaki. IUU telah menyebabkan menurunnya stok sumberdaya ikan serta hilangnya kesempatan sosial dan ekonomi. IUU juga telah berdampak pada rusaknya hubungan antara negara-negara yang bertetangga, berkurangnya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), berkurangnya peluang kerja nelayan Indonesia (lokal), karena kapal-kapal ilegal tersebut adalah kapal-kapal asing yang menggunakan ABK asing juga.

IUU biasanya dilakukan oleh orang atau kapal asing pada suatu perairan yang menjadi yurisdiksi suatu negara tanpa izin dari negara tersebut atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. IUU bertentangan dengan peraturan nasional yang berlaku atau kewajiban internasional. Dan, dilakukan oleh kapal yang mengibarkan bendera suatu negara yang menjadi anggota organisasi pengelolaan perikanan regional tetapi beroperasi tidak sesuai dengan ketentuan pelestarian dan pengelolaan yang diterapkan oleh organisasi tersebut atau ketentuan hukum internasional yang berlaku. Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, karena kompleksnya masalah ini dan melibatkan antarnegara, maka isu strategis IUU fishing juga akan dibawa pada even World Ocean Conference (WOC).

Sumber terjadinya illegal fhising, jelas Menteri, berawal dari pengadaan kapal, pendaftaran kapal, perizinan operasi kapal untuk penangkapan ikan tanpa izin, dan penangkapan ikan dengan izin palsu. Selain itu, lanjut Menteri, penangkapan ikan tidak dilaporkan di pelabuhan pangkalan, penangkapan ikan dengan alat tangkap terlarang, penangkapan ikan di area yang tidak sesuai izin dan penangkapan ikan dengan jenis alat tangkap yang tidak sesuai izin.

“Hal ini telah mengakibatkan hilangnya sebagian produksi ikan dan devisa negara serta berkurangnya peluang nilai tambah dari industri pengolahan akibat hasil tangkapan dibawa langsung ke luar negeri (negara asal kapal). Kondisi seperti ini akan mengancam kelestarian sumberdaya ikan, sekaligus bisa merusak citra Indonesia di kancah International,” kata Numberi ketika menjadi Keynote Speaker pada seminar tentang “Illegal Fishing as a Transnational Organized Crime”.

Strategi yang diperlukan untuk menangani hal tersbut, ujar Numberi, ada empat hal yakni preemptive (pencegahan offensif sebelum terjadinya pelanggaran di wilayah kelautan perikanan), responsif (reaksi cepat dalam penanganan pelanggaran dan tindak pidana); persuasif ( pembinaan terhadap pelaku untuk meningkatkan kesadaran tidak melanggar hukum); dan yang paling terakhir koordinasi (melakukan koordinasi dengan instansi terkait (BAKORKAMLA, TNI AL, atau POLRI dll).

Dalam mencapai cita-cita dan tujuan nasional perlu ada indikator keberhasilan pembangunan nasional yaitu kedaulatan NKRI tetap tegak dan utuh, disertai keamanan dalam negeri dan berakhirnya konflik komunal. Terwujudnya kepastian hukum dengan menghilangkan diskriminasi, pemberantasan KKN dan tegaknya HAM.

Kehidupan demokrasi dikembangkan melalui penguatan konstitusi disertai peran masyarakat (civil society) ditingkatkan dan kelembagaan serta budaya politik dikembangkan pertumbuhan ekonomi terus didorong sekaligus mengurangi pengangguran dan kemiskinan serta pengembangan sektor riil melalui peningkatan investasi dan ekspor. Semuanya disebabkan karena Indonesia memiliki sumber daya laut yang besar, memiliki daya saing (competitive advantage), memiliki keterkaitan yang kuat dengan industri-industri lainnya (backward and forward linkage), sumber dayanya dapat diperbaharui (renewable), Investasi di sektor ini memiliki efisiensi yang relatif tinggi. Ini dicerminkan dengan ICOR (Incremental Capital Output Ratio ) yang rendah (3,4). Serta memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi., dan pengembangan industrinya berbasis sumber daya lokal.

Saat ini “Illegal Fishing” semakin ramai dibicarakan, bahkan dalam draf Perubahan atas UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan oleh lembaga legislatif memberi perhatian yang serius dengan melakukan beberapa perubahan atas UU No. 31 Tahun 2004 tersebut.

Beberapa hal penting, antara lain perubahan atas pasal yang mengatakan bahwa kapal pengawas perikanan dapat menghentikan, memeriksa, membawa dan menahan kapal yang diduga atau patut diduga melakukan pelanggaran di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia ke pelabuhan terdekat untuk pemrosesan lebih lanjut.

Dalam melaksanakan fungsi tersebut pengawas perikanan dapat melakukan tindakan khusus berupa pembakaran dan atau penenggelaman kapal perikanan yang berbendera asing berdasarkan bukti permulaan yang cukup. Selanjutnya draf perubahan UU No. 31 Tahun 2004 memberi penegasan juga pada penyidik, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan perikanan termasuk memberikan perhatian pada illegal, unregulated & unreported fishing.

Menariknya ”hinggar binggar seputar illegal fishing” belum mampu menghentikan penangkapan ikan illegal di Perairan Indonesia, buktinya berbagai kasus illegal fishing belum dapat ditangani sesuai prosedur hukum yang ada, nyatanya banyak kasus tidak mampu di jerat hukum, dan begitu banyak persoalan hukum dibalik illegal fishing belum tuntas. Berkaitan dengan ini pengacara kondang Dr. O.C. Kaligis, SH, MH berbicara sekaligus mengkritisi hal ini terlebih dalam rangka World Ocean Conference (WOC) yang implementasi kegiatannya antara lain program pembangunan Perikanan, Kelautan, dan Pesisir. (009/002)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

Pasutri Meninggal Tragis

Kapoltabes: Saya Optimis

Kasus Pembunuhan Terungkap

MANADO – Untuk mengungkap pelaku pembunuhan pendeta Frans Koagouw (64) serta istrinya Femmy Kumendong (73) yang dikenal sebagai gembala di GPdI Petra Malalayang Dua Manado, Sabtu lalu, pihak Poltabes Manado sedang memeriksa tiga saksi.

evakuasi-jenasah

Tiga saksi itu, Putra Marsel Paseki (20), Siska Rumondor (24) dan Teris Karaeng (58) yang bekerja sebagai tukang yang merupakan warga Malalayang Dua Lingkungan III Kecamatan Malalayang.

Menurut saksi Siska bahwa di Jam 7.30 Wita, ia mendengar ada seorang lelaki bertanya kepada Teris tentang rumah Rocky Pronoko (45), menantu korban. Kemudian dijawab Teris didepan. Selanjutnya lelekai tersebut mendatangi rumah korban, dan sekitar 30 menit kemudian Putra cucu korban datang ke rumah (Pastori), dan menemukan kedua korban dalam keadaan mengenaskan, Frans tergeletak dilantai tidak bernyawa lagi dan mengalami luka potong dileher bagian belakang, dan Femmy tidak sadarkan diri karena mengalami luka potong dibagian wajah.

Hasil pantauan Cahya Siang di TKP Sabtu pagi, korban Frans langsung meninggal ditempat kejadian akibat mengalami luka potong dibagian leher. Kepala korban nyaris terpisah. Sedang Femmy tergeletak di tempat tidur dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tiga luka sabetan menganga di wajahnya. Satu tebasan pada dahi kanan melewati pelipis dan mata kanan hingga tulang pipi kanan. Luka tebasan kedua menganga di dahi kanan melewati pelipis mata kanan terus ke bawah mengenai bibir hingga dada. Satu tebasan lagi mengenai pipi kiri. Dan Femmy menghembuskan nafasnya terakhir di Rumah Sakit Prof Kandou Malalayang. mayat-femmy-kumendong

Kapoltabes Manado Kombes Pol Drs Aridan J Roeroe saat konfirmasi Cahya Siang mengatakan untuk mengngkap kasus pembunuhan itu pihak Poltabes sudah membentuk tim yang dpimpin langsung oleh Wakapoltabes AKBP Hendra Supriatna,SH MH. ”Saat ini personel kepolisian terus bergerak untuk menyelidiki kasus tersebut,” ujarnya.

Mengenai lama atau tidaknya pengungkapan kasus pembubuhan ini, Roeroe menegaskan Tidak memasang target berapa lama kasus ini akan terungkap, namun dia menjamin kepolisian akan bertindak maksimal, tutur Kapoltabes Manado yang saat kejadian sudah langsung turun ke TKP.

Dijelaskan Roeroe, Poltabes Manado sudah berkoordinasi dengan Polres Minahasa untuk bersama-sama mengungkap kasus pembunuhan ini. Menurutnya, untuk memaksimalkan penyidikan, semua pihak harus bekerjasama, termasuk masyarakat seraya menambahkan pihak sudah memeriksa tiga orang saksi. ”Saya optimis pihak kepolisian akan berhasil mengungkap kasus pembunuhan ini,” kata Kapoltabes.

Diketahui, pembunuhan yang diduga berencana terjadi di salah tempat ibadah di bilangan Lingkungan III, Kelurahan Malalayang II, Kecamatan Malalayang, Kota Manado. Frans Koagouw (60-an), tewas di Tempat Kejadian Perkara (TKP), setelah kepala korban nyaris terpisah dengan badan. Sedangkan istri Frans, Femmy Kumendong (60-an), juga tewas sekitar pukul 10.00 Wita, setelah mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Prof Kandou Malalayang. Femmy ketika mendapat pertolongan oleh masyarakat sekitar di dalam kamar ternyata masih bernapas, sehingga dilarikan ke rumah sakit namun beberapa jam setelah peristiwa terjadi nyawa ibu beranak empat ini tidak tertolong.

Pembunuhan dengan cara memotong-motong (mutilasi) para korban baru kali ini terjadi Manado,bahkan diduga di Sulawesi Utara. Satu jam sebelum peristiwa terjadi, ‘eksekusi’ gaya lelaki Jombang, Ryan, ini belum tercium warga namun merebak setelah salah seorang cucu korban melihat banyak tumpahan darah di sekitar pintu dan ruang tamu para korban.

Peristiwa biadab itu, terjadi sekitar pukul 06.30 Wita, Sabtu (25/4), di saat para PNS dan pegawai swasta beristirahat bekerja, namun berubah hening ketika terdengar opa Frans dan oma Femmy ditebas dengan parang.‘’Kalau itu opa dia punya kepala hampir putus, sedangkan itu oma dorang potong-potong di kepala dan di muka. Depe mata so takaluar sadiki,’’ ujar salah ibu yang tidak mau namanya disebutkan.

Sejumlah sumber di TKP menyebutkan, korban Femmy selama beberapa tahun mengidap strok (ferlaming), sehingga harus dipapah jika ke kamar kecil dan makan perlu disuap. ‘’Kita ndak habis pikir, itu oma so saki bagitu, dorang bunuh ley. Bukan main dorang mo terima itu kutuk,’’ kata Yangky S, sopir trayek jurusan terminal Malalayang – Karombasan.

Nada yang sama juga datang dari salah seorang sopir. Menurut Danny S, sopir Mikrolet yang hampir 20 tahun melayani penumpang terminal Malalayang – Karombasan mengungkapkan, bahwa opa Frans adalah salah pemuka agama di salah satu tempat ibadah di Kelurahan Malalayang. ‘’Itu opa kita kenal. Kita bukang mo sosere, itu opa kalau mo bajalang agak pincang,’’ ujarnya. Selain itu, lanjut Danny, korban sewaktu umur 50-an pekerjaannya, selain melayani jemaat di Malalayang II, juga berprofesi bussinisman bahkan sering menjual daging sapi di Pasar Karombasan. ‘’Itu opa pe hobby kwa ba bisnis. Jadi banyak orang kanal di kompleks pa dia,’’ ujarnya.

Sebelum peristiwa berdarah terjadi, pagi sekitar pukul 06.00 Wita ada seorang lelaki bertanya kepada tetangga korban, yang menanyakan dimana rumah Keluarga Koagouw-Kumendong. Kemudian tetangga korban menunjuk keluarga tersebut. ‘’Kita dengar sebelum terjadi pembunuhan ada laki-laki bawa sepeda motor bebek batanya pa tu tetangga korban tanya itu opa pe rumah,’’ kutip seorang sopir, kepada Cahya Siang.

Motif pembunuhan masih simpang siur, namun hingga kemarin sore merebak isu bahwa pembunuhan tersebut dilatarbelakangi pembagian warisan (harta) di Kecamatan Remboken – Minahasa. Selain itu, ada perselisihan sebidang tanah di Kelurahan Malalayang II, Lingkungan III. Tempat tersebut sangat strategis karena berhadapan dengan pantai, yang saat ini sedang dibangun untuk dijadikan toko yang cukup megah.

Tanah yang sudah dijual korban sempat bermasalah hingga ke pengadilan, baik bermasalah secara perdata maupun pidana. Gugatan perdata di Pengadilan Negeri (PN) Manado hasilnya tidak dapat diterima, sedangkan perkara pidananya masih diperiksa di Mahkamah Agung. (009/JM/001)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

Rode Koagouw Mengaku Dapat Firasat Buruk

“Semua Manusia Pasti Meninggal,

Tapi Caranya Saya Belum Bisa Terima”

Mata Rode Koagouw (38) sembab. Sepanjang hari dia terus meratap di depan jenazah kedua orang tuanya Frans Koagouw (64) dan Femmy Kumendong (72), pasangan pelayan GPdI Petra Malalayang II yang dibunuh secara sadis Sabtu (25/4) akhir pekan lalu.

PERISTIWA memilukan itu sungguh di luar sangkaan siapa saja, apalagi Rode selaku putri korban. Walau begitu, Rode yang juga seorang pelayan Pantekosta, mengaku sepekan sebelum kejadian dia sudah mendapat firasat buruk. Apa yang dirasakannya itu didapat lewat mimpi yang berkaitan dengan busana pengantin.

”Dalam mimpi itu, saya diminta suami pakai baju pengantin karena kami akan menghadiri undangan pernikahan. Semula saya tidak mau, tapi suami saya terus meminta dan akhirnya saya pakai juga,” tutur Rode pada Cahya Siang, Minggu (26/4), kemarin.

Meski bersedia mengenakan gaun pengantin berwarna putih, Rode batal menghadiri acara pernikahan tersebut. “Bajunya sudah saya pakai, tapi tidak ada yang bisa make up. Jadi saya tidak mau ikut ke pesta itu,” ujar Rode, seraya bilang percaya tidak percaya tapi apa yang dilihat di alam tidur itu dirasakannya sebagai pratanda buruk.

Ada peristiwa lain yang membuatnya bergidik. Itu terjadi  2 hari sebelum peristiwa, Kamis (23/4). Rode kembali mengisahkan, saat itu dia dan suami melakukan pelayanan di GPDI Hosana Bitung, berangkat menuju Bitung hendak mengikuti kebaktian. Tapi mereka harus kembali ke Manado karena mobil selalu mogok dalam perjalanan diakibatkan temperatur kendaraan yang tidak stabil. “Anehnya, saat pulang ke Manado tak pernah mogok dan temperatur dalam keadaan baik,” Ujar Rode penuh rasa tidak percaya.

Kejadian itu, lanjutnya, seperti tanda agar ia tak meninggalkan ayah dan ibunya di rumah. Tapi dengan alasan tugas pelayanannya, Rode bersama suaminya kembali ke Bitung, Jumat, usai mengantar ayahnya ke Restoran Bandar sekitar pukul 17.00 WITA.

Karena tak pernah meninggalkan ayahnya sendirian saat pelayanan, Rode menitipkan sang ayah pada rekan sesama pelayan. Sedangkan sang ibu ditemani beberapa cucunya di rumah. “Sesudah pertemuan para Pendeta, Papi pulang rumah,” katanya.

Rode yang harusnya kembali ke Manado usai kebaktian di Bitung, memilih bermalam karena ditahan sejumlah jemaat. “Rencananya Sabtu (25/4) pagi, akan kembali ke Manado. Tapi, sekitar pukul 07.30 saya ditelepon. Katanya, Papi dibunuh orang,” ujarnya sambil menghapus air matanya dengan sapu tangan.

Rode mengaku sangat terpukul atas peristiwa itu. “Semua manusia pasti meninggal dan itu kuasa Tuhan. Tapi caranya yang saya belum bisa terima. Saya hanya bisa bersyukur karena Tuhan memberi saya kesempatan mengurus Mami dan Papi selama sakit,” pungkasnya.

Cucu kedua korban, Putra Marsel Paseki, juga terpukul dengan peristiwa yang menimpa opa, omanya. Rasanya tak percaya, pasangan yang sudah mengasuhnya dengan penuh kasih sayang sejak kecil, harus kehilangan nyawa dengan cara direngut paksa.

Pada Cahya Siang, pemuda yang menemukan jenazah pasangan tersebut mengaku sering tidur dalam gereja. Dia menemukan jenazah saat masuk ke pastori untuk benah-benah. ”Pintu depan dan jendela terbuka tapi tak terdengar suara, saat masuk saya panik karena melihat darah,” akunya.

Sejurus kemudian, diapun memanggil tetangga untuk melihat langsung apa yang terjadi di rumahnya. Saat datang kedua kali, barulah diketahui bahwa opanya Frans sudah tergeletak tak bernyawa. ”Tapi oma ada di tempat tidur, masih hidup, masih bernapas, langsung dibawa ke rumah sakit dengan mikro,” tuturnya. ”Kita rupa nda percaya opa dengan oma mati bagini, kita harap depe pelaku lakas dapa, kong dapa hukum seberat-beratnya,” imbuh Marsel. (steven/010)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under HUKRIM

Isak Tangis Mewarnai Kepergian Om Frans dan Tante Femi

“Ma…..mi….Pa….Pi….Kiapa dang jadi Bagini”

MANADO, Cahya Siang (27/4)– Suasana duka cita menghiasi rumah duka Pdt Frans Koagouw dan Femmy Kumendong, korban pembunuhan yang terjadi Sabtu lalu. Kasus pembunuhan yang tergolong sadis itu sempat menggemparkan masyarakat Kota Manado, khususnya Malalayang Dua. Kenapa, dua korban itu mengalami luka potong.

Kedua Korban Ketika di semayamkan

Kedua Korban Ketika di semayamkan

Korban Frans mengalami luka potong dibagian lehernya, sehingga kepalanya nyaris putus. Sedang korban Femmy mengalami beberapa luka potong dibagian wajahnya.

Untuk menyatakan turut bertduka cita dan ingin mengetahui persis kejadian tersebut, para pimpinan gereja, jemaat, kerabat dan masyarakat silih berganti datang melayat. Puluhan karangan bunga turut berduka cita menghiasi halaman rumah dan diluar gedung GPdI yang dijadikan tempat disemayamkan dua korban tersebut.

Rumah korban (TKP) yang kebetulan berselebelahan dengan gedung GPdI untuk sementara tidak bisa dimasuki oleh siapapun karena telah dipolice line oleh pihak kepolisian.

Kemarin, peribadatan jemaat GPdI dilakukan tiga 3 kali, yaitu pukul 10.00, 14.00 dan 18.00 Wita. Tak henti-hentinya isak tangis keluarga bahkan pimpinan gereja, jemaat dan kerabat korban serta masyarakat yang melayat ketika memandang kedua jenazah yang dibaringkan di depan Altar Gedung GPDI Petra Malalayang, yang berada tepat di samping rumah korban..

Isak tangis anak-anak dan cucu korban terdengar. Mami Papi, kiapa ngoni dua pe siksa bagini dang. Tuhan kase akang kekuatan pa torang. Ado kasiang….Ma…mi….ma….mi….Ma….mi…..Pa…pi….Pa….pi……Pa……,” teriak Rode, anak perempuan korban dengan histeris Begitu pula dengan dua orang anaknya dan cucunya terus menangis. “Mami…Papi…kyapa dang tu nasib jadi bagini….Oh ..Tuhan…kayapa dang Ma….mi deng Pa…..pi pe siksa bagini……,’ tutur anak Feibe.

Tiga anak perempuan korban terus mencucurkan air matanya di depan jenazah orangtua mereka. Sementara para cucu terus menatap Opa dan Omanya sudah terbujur kaku, sambil mencucurkan air mata


Sementara itu para pelayat, baik kerabat korban, jemaat dan masyarakat setempat simbuk mebahas kasus pembunuhan tersebut. (CS/Steven Walukow)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under HUKRIM